FINGER
print test atau dikenal dengan tes sidik jari di samping mampu
mengidentifikasikan kecerdasan, juga mampu mengidentifikasikan karakter
individu. Informasi tentang karakter dan kecerdasan karyawan sangat
bermanfaat untuk menempatkannya di tempat kerja yang tepat. “The right
man in the right place” penempatan karyawan sesuai dengan potensi,
bakat, dan karakternya. Demikian diungkapkan ahli analisis finger print
dari Singapura Mr. Richie Maximus.
Ia mengatakan, tes sidik jari sudah diterapkan di beberapa negara di
Asia seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Taiwan. Sekarang ini,
kata Mr. Richie, tes sidik jari sudah digunakan dalam perekrutan
karyawan baru dan promosi jabatandi beberapa perusahaan besar di
Jakarta.
Ia berpandangan, tiap orang diciptakan sebagai sosok
yang cerdas. Namun, kecerdasan yang dimiliki berbeda-beda dengan takaran
yang berbeda pula. Tes sidik jari akan menjelaskan dan memetakan
potensi dasar atau bakat yang dimiliki. Dari hasil grafik kecerdasan
majemuk ini, perusahaan dapat lebih mudah mengarahkan atau
mengembangkan kecerdasan karyawannya sesuai dengan potensi yang
dimilikinya. Dalam hasil tes, disebutkan apa kelebihan dan kelemahan
individu. Beberapa rekomendasi juga diberikan untuk mengembangkan
potensi yang menonjol, dan menempatkan kekurangan agar tidak menghambat
dalam berkarier. “Dengan tes ini, individu dapat memahami diri sendiri
dan memilih karier yang tepat. Individu mampu mengidentifikasi dan
memanfaatkan kompetensi yang dominant, membangkitkan semangat untuk
kehidupan dan mencapai mimpi-mimpi, mengembangkan diri dan memberdayakan
diri untuk mencapai tujuan dan impian,” papar Mr. Richie.
Dari
hasil ini, perusahaan bisa memberdayakan karyawan dengan memahami
bakat/potensi yang mereka miliki, menemukan nilai-nilai yang tidak
tampak dari karyawan untuk pengembangan kreativitas yang lebih
menguntungkan, mengorganisasikan kekuatan kinerja karyawan untuk
mencapai prestasi tertinggi/optimal, menentukan dan menyelenggarakan
pelatihan pengembangan SDM yang dibutuhkan karyawan serta mengevaluasi
pengelolaan profil bakat level manajemen. Ia mengatakan, individu
yang sudah bekerja tidak harus mengubah pekerjaannya setelah
mengetahui hasil tes ini. Namun, hasil tes dapat digunakan untuk
mengembangkan potensi unggulan untuk menunjang profesi kerja. 
Delapan Kecerdasan
Psikolog Nyoman Ayu Suci Kharisma Rani mengungkapkan, ada beberapa
indikator seseorang melakukan sesuatu sesuai bakatnya atau tidak.
“Mereka biasanya penuh rasa riang gembira ketika melakukan sesuatu
pekerjaan atau kegiatan. Mereka melakukannya sendiri tanpa harus dipaksa
atau diperintah. Mereka juga tidak putus asa dan tidak mudah jenuh
pada kondisi apa pun saat melakukan sesuatu itu,” paparnya.
Dengan mengetahui bakat yang sebenarnya, seseorang akan makin senang
menghadapi bisnis atau pekerjaannya dalam kondisi apa pun dan lebih
produktif. Contoh, jika setelah dites hasil yang ditemukan individu
memiliki karakter yang mudah bergaul, orangnya menyenangkan, dan mampu
mengintegrasikan topik pembicaraan sehingga mampu tampil sebagai
pengendali pembicaraan. Individu ini populer dan memiliki banyak teman.
Ia cenderung tidak ragu dalam berinteraksi dengan orang yang baru
dikenalnya. Individu ini cenderung cocok ditempatkan di pemasaran.
Karakternya yang mudah bergaul dan menyenangkan bagi orang lain sebagai
kunci utama ia sukses di bidang penjualan. Ia menyatakan pekerjaan
seseorang yang disesuaikan dengan bakat dan potensi akan meningkatkan
produktivitas kerja. “Bagi yang ingin menjadi pegawai, maka potensi
otak kiri harus lebih dominan daripada potensi otak kanan. Bagi yang
akan mencoba menjadi pengusaha, potensi otak kanan harus lebih dominan
dibandingkan otak kiri,” katanya.
Ia mengatakan, kecenderungan
seseorang bisa saja dominan otak kiri atau otak kanannya, atau seimbang.
Dari hasil ini, kita dapat melatih dan membantu menyeimbangkan
kemampuan analisis logis otak kiri dengan kemampuan kreativitas dan
apresiasi otak kanan. Manusia memiliki delapan kecerdasan.
Kecerdasan linguistik (bahasa) yakni kemampuan membaca, menulis, dan
berkomunikasi dengan kata-kata atau bahasa. Pekerjaan yang cocok baginya
penulis, jurnalis, penyair, orator, dan pelawak. Kecerdasan logis
matematis yakni kemampuan berpikir (menalar) dan menghitung, berpikir
logis dan sistematis. Ini adalah jenis-jenis keterampilan yang
diperlukan ekonom atau akuntan. Kecerdasan visual-spasial yakni
kemampuan berpikir menggunakan gambar, membayangkan berbagai hal pada
mata pikiran. Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini antara lain
arsitek, seniman, pemahat, pelaut, fotografer dan perencana strategis.
Kecerdasan musikal yakni kemampuan mengubah atau mencipta musik, serta
menjaga ritme. Ini merupakan bakat yang dimiliki para musisi, komposer,
dan perekayasa rekaman. Tetapi, kebanyakan kita memiliki kecerdasan
musikal dasar yang dapat dikembangkan selanjutnya. Kecerdasan
kinestetik yakni kemampuan menggunakan tubuh secara terampil untuk
memecahkan masalah, menciptakan produk atau mengemukakan gagasan dan
emosi. Kemampuan ini jelas diperlihatkan prestasi atletik, di bidang
kesenian seperti menari dan akting, atau dalam bidang bangunan dan
konstruksi.
Kecerdasan interpersonal yakni kemampuan bekerja
secara efektif dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain dan
memperlihatkan empati dan pengertian, memperhatikan motivasi dan tujuan
mereka. Kecerdasan jenis ini biasanya dimiliki guru, penyembuh,
politisi, pemuka agama. Kecerdasan intrapersonal, yakni kemampuan
menganalisis diri dan merenungkan diri, mampu merenung dalam kesunyian
dan menilai prestasi seseorang, meninjau perilaku seseorang dan
perasaan-perasaan terdalamnya, membuat rencana dan menyusun tujuan yang
hendak dicapai, mengenal benar diri sendiri. Kecerdasan ini biasanya
dimiliki filosof, penyuluh, pembimbing. Kecerdasan naturalis yakni
kemampuan mengenal flora dan fauna, dan menggunakan kemampuan ini secara
produktif misalnya untuk berburu, bertani atau melakukan penelitian
biologi. Ahli tumbuhan (botanis), konservasi, biologi, lingkungan,
semuanya memperlihatkan aspek-aspek kecerdasan ini.
Perempuan
yang akrab disapa Rani ini mengatakan, dengan tes sidik jari, akan
diketahui kecerdasan mana yang menonjol. Penempatan karyawan pun
disesuaikan kecerdasan yang dimiliki. Ia menyatakan, memahami diri
berarti mampu memahami kekuatan dan kelemahan diri. Individu yang bisa
mengetahui potensi dan karakternya, mampu menempatkan dirinya dengan
lebih baik dan bertindak efektif sesuai dengan situasinya. “Individu
yang demikian mampu melakukan evaluasi dan mengukur kemajuan yang
dicapainya sehingga ia mampu mengoptimalkan potensi dirinya. Ia juga
diharapkan mampu fokus pada kelebihannya, dan tidak selalu memandang
kekurangannya,” ujarnya. Rathi, misalnya. Ia memiliki karakter yang
tak mudah percaya dengan informasi yang disampaikan pihak lain. Ia
cenderung menghendaki adanya data, bukti, dasar bukunya dan melihat
kualitas orang yang menyampaikannya. Awalnya saat ditawari tes sidik
jari, ia tidak terlalu tertarik. Ia kemudian melakukannya dengan sedikit
bercanda. Namun, setelah melihat hasilnya, ia kaget, ternyata 90%
analisis finger print test sama dengan karakternya. Dari hasil tes
terlihat, ia tak mudah memercayai penjelasan apa pun, sebelum ada bukti
dan data.
Rani berpandangan, individu dapat jauh lebih optimal
dalam menempatkan dan mengembangkan diri jika ia memahami karakter dan
kelebihan serta kekurangan dirinya. (dikutip dari berbagai sumber) |